Jumat, 13 November 2015

Motivasi Dakwah

Motivasi Dakwah

oleh : Anita Hanifah35

“Serulah (manusia)kepada jalan Tuhan mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantalah mereka dengan jalan yang baik”. (Q.S.An-Nahl : 125).
Menyeru manusia kepada jalan yang baik bukanlah tugas seorang kyai, ulama, ustadz dan tokoh agama lainnya. Namun, menyeru kepada jalan yang baik adalah tugas kita semua. Menyeru kepada kebaikan tidak menunggu kita menjadi sempurna dalam kebaikan, karena tugas besar dalam menyeru kebaikan ini adalah wajib dan tidak memerlukan insan yang sempurna, karena tiada manusia yang terlepas dari dosa, dan tugas kita hanyalah berusaha. Ketika kita mengalami kegagalan, terjatuh, dicela, tidak diterima itu perkara yang wajar. Karena jalan dakwah ini penuh rintangan dan halangan. Namun yakinlah saat rintangan tersebut dapat kita lewati satu persatu, maka manisnya iman akan terasa setelah pahitnya berjuang. Berdakwah hukumnya adalah wajib, mengapa berdakwah hukumnya wajib ?
1        Islam adalah agama dakwah
Islam adalah agama yang bersumber dari Allah SWT dan diturunkan melalui malaikat Jibril kepada nabi dan rasulnya Muhammad SAW. Misi Islam adalah untuk membebaskan manusia dari segala bentuk pengabdian kepada makhluk, kemudian menjadi pengabdi Allah SWT semata.
2        Perumpamaan kalimat yang baik adalah dakwah
3        Dakwah adalah pekerjaan mulia
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (Q.S.Al-Imran : 79)
Menjadi generasi rabbani adalah generasi yang menyeru manusia kepada tauhid
4        Dakwah adalah jembatan kemenangan.

Secara garis besar dakwah Islam mempunyai tujuh (7) tujuan sebagai berikut :
1.      Mendapatkan ridho Allah dengan memenuhi segala pesyaratannya
2.      Membangun manusia muslim yang memiliki integritas moral, intelektual, serta fisik yang sehat dan kuat
3.      Mewujudkan keluarga teladan yang menghormati norma-norma kemanusiaan dan menghargai akhlak sosial guna melahirkan generasi yang merdeka dan berbudaya
4.      Membina masyarakat menuju kehidupan yang bersih, indah dan berkomitmen untuk menyebarkan nilai-nilai kebajikan serta memerangi dekadensi moral dan perilaku penyimpangan
5.      Ikut menegakan persauan dan kesatuan bangsa dan menempatkannya di atas perbedaan suku, golongan serta agama
6.      Memelihara kemaslahatan islam dan kaum muslimin serta memotivasi mereka untuk memiliki tanggung jawab bagi kedamaian dan kejayaan bangsa
7.      Menyiapkan insan yang cerdas, terampil dan bertakwa
Dengan demikian, masih adakah alasan bagi kita untuk berlari dari dakwah ? masih adakah alasan untuk kita tidak berdakwah ? katakanlah “Tidak ada alasan kabur dari dakwah”. Karena pada hakikatnya bukan dakwah yang membutuhkan kita, namun kita yang membutuhkan dakwah. Semoga dakwah menjadi jalan menuju jannah.

"Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu." (alm KH. Rahmat Abdullah).

Kamis, 17 September 2015

Cara Mendidk anak



Cara mendidik anak


أَدِّبُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثٍ خِصَالٍ :حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَ حُبِّ أَهْلَ بَيْتِهِ وَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَإِنَّ حَمَلَةَ الْقُرْآنِ فِي ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لَا ظِلِّ إِلَّاظِلُّهُ مَعَ أَنْبِيَائِهِ وَ أَصْفِيَائِهِ (رواه الديلمى عن علي)

“Hendaklah kalian mendidik anak-anak kalian dengan 3 perkara : 1. Didiklah dengan kecintaan terhadap Nabi, 2. Didiklah dengan kecintaan terhadap keluarga Nabi, 3. Didiklah untuk membaca al-qur’an. Maka sesungguhnya orang-orang yang menghafal al-qur’an berada di bawah naungan Allah, pada hari yang tidak ada naungan selain naungan Allah bersama para Nabi dan para kekasih Allah”.(رواه الديلمى عن علي)
Dari hadist diatas, dapat kita ambil sebuah hikmah besar, terutama untuk kita para orang tua dan calon orang tua, untuk mengarahkan, mendidik dan membimbing anak-anak kita pada nilai-nilai dan panji-panji agama. Oleh karena itu, kenalilah mereka terhadap tiga hal tersebut yaitu :
1. kenalilah ia kepada Allah dan Rasul-Nya
2. kenalilah ia kepada para keluarga dan sahabat Nabi
3. kenalilah ia kepada ayat Suci Al-Qur’an
Anak adalah amanah, anugerah dan berkah, jika kita mampu mengarahkannya kepada jalan yang benar. Seorang anak yang soleh dan solehah akan menjadi jembatan menuju syurga bagi kedua orang tuanya, dan anak adalah salah satu kunci pintu syurga.
Sebagai orang tua, tentu kita akan sangat bangga apabila anak kita bisa dengan pasih berbicara bahasa Inggris, namun alangkah lebih bangga jika ia mampu membaca al-Qur’an dengan pasih pula.
Sebagai orang tua, tentu kita akan bangga apabila anak kita bisa bernyanyi dengan merdu, namun lebih bangga lagi jika ia membaca al-Qur’an dengan penuh syahdu.
Melihat anak tumbuh remaja, tentu kita sebagai orang tua akan sangat merasa senang, namun lebih senang lagi, jika masa remaja anak kita mengarah kepada hal-hal yang positif
Zaman sekarang adalah tantangan. Ribuan rayuan dan godaan sering kali menghampiri para generasi muda dan mencoba untuk merusaknya. Disinilah peran kita sebagai orang tua, untuk melindungi anak-anak kita dari kehancuran dan kenistaan. Semoga kita semua menjadi orang tua yang amanah. Waallahu a’alam...

#Bandung, 04-September-2015
#AnitaHanifah35


Rabu, 16 September 2015

belajar dari seeokor burung gagak



Belajar dari seeokor burung gagak 


Pada suatu hari ada seekor burung gagak yang hinggap di atas pohon tanpa melakukan sesuatu apapun, kemudian datanglah seekor kelinci yang menghampirinya dan bertanya.
“Hai burung gagak sedang apa kau di atas ranting tersebut?”. Tanya kelenci tersebut kepada burung gagak.
“aku sedang duduk santai aja”. Jawab burung gagak tersebut.
“wah enak sekali jadi kau, apakah aku bisa seperti mu, duduk santai tanpa melakukan apapun?”. Tanya kelinci kepada burung gagak
“Oh tentu, kau pun bisa seperti aku”. Jawab burung gagak tersebut.
Kemudian kelinci pun mencari tempat teduh di bawah pohon dan duduk santai di pohon yang rindang, tanpa melakukan hal apapun.
Singkat cerita, ketika kelinci sedang duduk santai tersebut, tiba-tiba musang datang menghampiri kelinci dan langsung menerkam kelinci tersebut.
Hikmahnya adalah jika kelinci ingin seperti burung gagak yang sedang duduk santai tanpa melakukan apapun, seharunya jangan duduk di tempat yang rendah tapi duduklah di tempat yang tinggi.

Minggu, 26 April 2015

                     
Tanpa Hujan Tidak Ada Pelangi

Cerpen karangan : Anita Juni Yanti
                            
Sekelompok anak kecil menari-nari riang menikmati hujan di senja ini. Mereka tertawa lepas dan tampak bahagia, bermain bersama air hujan yang dingin. Mereka berlarian, kejar-kejaran dan bermain perahu kertas di aliran selokan. Ku tatapi kebahagian demi kebahagian yang dirasakan anak kecil tersebut. Senyum yang merekah dari kedua bibirnya, dihiasi lesung pipi, menambah cantik wajah yang tersenyum. Bagaikan taman bunga yang akan mekar menyambut datangnya hujan.
 Namun, tampaknya ada yang salah dengan hujan ini. Tiba-tiba hati ku kacau dan terasa sakit.
            Tess...tess..tess...
“Ku rasakan ada air hujan yang turun dari sumber yang lain. Aku tak mengerti dengan ini. Hey...anak kecil itu tampak bahagia dengan air hujan, namun ada apa dengan hujan ini ?”. Jerit batin ku.
Tentu saja aku merasakan ada hal yang berbeda, ternyata air hujan itu bukan jatuh dari atas langit. Namun jatuh dari kedua pipiku.
Hujan terkadang memberikan keberkahan dan anugerah terindah bagi orang yang menikmatinya. Akan tetapi, hujan terasa sangat menyakitkan, jika itu adalah hujan masalah. Hujan yang dirasakan anak kecil itu berbeda dengan hujan yang sedang ku rasakan. Mereka menikmati kesejukan air dari awan, dan aku menikmati air dari permasalahan.
Aku hanyalah seorang gadis yang senang berdiri di depan pintu, meratapi tetes air hujan yang jatuh ke bumi, karena hujan bagiku, menyisakan rasa sakit yang teramat dalam. Hujan tiga tahun yang lalu, merenggut kebahagian yang pernah terukir indah. Hujan membawa ia bersama wanita lain.
“Oh Tuhan... kenapa hujan di pipi ku kian deras”. Bisik  hati ku.

~
“Kak, aku lapar”. Seru adik ku Rangga yang membuyarkan lamunan ku bersama gemericik hujan. Ia tampak pucat pasi.
Sejenak, ku perhatikan penampilan Rangga, ia kurus, wajahnya pucat, dan terlihat sangat lemah. “Tuhan...berikan balasan untuk orang yang sudah menelantarkan si kecil”. Seru batin ku.
“Kak”. Seru adikku kembali.
Dengan menghela nafas, ku hapus air hujan yang membasahi pipi ku, dan melemparkan senyum terindah yang ku miliki untuk adik tercinta. “ia sebentar ya dek, kaka masak dulu”. Jawabku singkat.
 Sambil menahan rasa sakit ini, ku coba berusaha tegar demi adik dan ibu ku. Kaki ini terasa sangat berat untuk di langkahkan. Namun, jika bukan aku yang mengurus mereka, siapa lagi?. Tuhan kau tak hanya mengirimkan air hujan ini menembus atap rumah ku yang semakin rusak, dan kau mengirimkan air hujan di sudut pipi ku. Tuhan luka ini terlalu sempurna.
Usai masak dan mempersiapkan makanan untuk ibu dan adik bungsu ku. Aku terpaku melihat ibu mengusap photo yang mulai usang itu. Sorot mata ku memancarkan api kebenciaan melihat photo yang di bersihkan ibu. Luka ini masih terlalu sempurna, bahkan aku tak mau mengingat semua kenangan lalu.
Dengan cepat aku ambil photo itu dari ibu, dan melemparkannya dengan keras ke atas lantai hingga pecah berkeping-keping. Kepingan itu bagaikan serpihan hati yang ia potong dengan pisau yang tajam.
Mata ibu berkaca-kaca melihat ku memecahkan photo itu. Perlahan ibu mengambil kepingan kaca yang berserakan.
“Awww....”. Seru ibu merintih kesakitan. Tangannya tergores pecahan kaca yang ia kumpulkan. Aku heran sama ibu, masih saja ia mau menyimpan kenangan pahit yang seharus ia hapus bersamaan kepergian laki-laki itu. Kepingan kaca itu hanya melukai tangannya, dan lelaki itu melukai hatinya. Aku yakin hati ibu pecah bagaikan kepingan kaca itu. Kala lelaki itu pergi di tengah hujan deras bersamaan wanita lain.
Aku seolah acuh melihat ibu terus merapihkan kepingan kaca itu, sehingga tiba-tiba saja aku mengeluarkan kata yang seharusnya aku jaga.
“Percuma bu, meskipun ibu ambil kepingan demi kepengin itu, tak akan menjadikan bingkai yang indah lagi, dan selamanya akan menjadi kepingan yang pecah”. Teriakku kepada ibu.
“ada kalanya kita perlu terima bahwa ada orang yang diciptakan untuk menyakiti perasaan kita”. Jawab ibu dengan lembut.
“terus kita harus terus mengingatnya, hingga menjadikan kita orang gila, begitu maksud ibu?”. Air hujan ini semakin deras ku rasakan di kedua pipi ku.
Ibu berusaha berdiri dan duduk di kursi. Ia rebahkan badannya yang sudah sangat lemah. Aku tahu, pasti luka di hati ibu, jauh lebih sempurna daripada apa yang ku rasakan.
Tiba-tiba saja aku mematung di hadapan ibu, melihat sorot matanya, menunggu responnya atas pernyataan yang telah ku lontarkan. Andai ibu mengakui bahwa orang itu tak pantas hadir dalam kenangan kita, dan melupakannya, aku tak akan pernah membentak ibu.
“Nak”. Seru ibu dengan nada yang parau.
“Bukankah Allah menguji ketegaran dalam kesakitan?”. Seru ibu kembali.
Sejenak aku terpaku mendengar respon yang ibu sampaikan.
“Allah tidak akan menciptakan suatu peristiwa tanpa ada kolerasinya dengan masa depan, sengaja Allah memilih ia yang menyakiti kita, dan Allah memilih kita yang disakitinya. Itu semua adalah desain yang sangat indah”. Seru ibu kembali.
“jadi, menurut ibu, penderitaan, pengkhiatan itu adalah anugerah, begitu maksud ibu ?”. Tegasku membantah pernyataan ibu.
Ibu hanya terdiam dan menahan air matanya.
“Sebuah anugerah dari Tuhan, dimana Tuhan mengirim Iblis dalam kehidupan kita”. Seru ku dengan nada yang tinggi.
“jaga mulut mu !!!”. Sorot mata ibu mengarah kepada ku.
“kalau tak ada ia, kau tak akan pernah ada dalam hidup ini”. Seru ibu kembali.
“bahkan kalau aku boleh memilih, aku tak ingin ada di dunia ini”. Jawab ku.
Sejenak aku dan ibu terdiam. Selang beberapa detik kemudian, ibu tersenyum membelai kepala ku lembut.
“andai semua ini tak pernah terjadi, apakah kamu akan menjadi orang yang dewasa?”. Seru ibu kembali
“aku ngga ngerti maksud ibu”. Sambil menatap kedua matanya.
Ibu kembali duduk di kursi. Menghela nafas panjang dan hembusan kepasrahan.
“seharusnya, kamu coba baca simbol dari Tuhan”. Suara ibu keluar dengan menahan getir di hatinya sendiri.
“nak, dengarkan ibu”.
“semenjak, seseorang yang kita cinta meninggalkan dan menelantarkan kita. Kita berusaha dewasa dalam setiap permasalahan. Air hujan yang jatuh dari kedua pipi kita saat sujud kepada Tuhan, itulah yang Tuhan harapkan dari kita. Air hujan yang mengalir dari kedua pipi kita, semakin mendekatkan kita kepada Sang Maha Cinta. Jika kita kecewa, itu adalah hal yang manusiawi, karena rasa kecewa dan sakit pun Tuhan yang menciptakan. Namun berlarut dalam kebencian, itulah yang syaithan harapkan”. Seru ibu.
Aku yang mendengarkan semua nasehat ibu, hanya terpaku, diam membisu. Ibu berdiri dari kursinya dan menggandeng tangan ku.
“Lihatlah hujannya sudah berhenti”. Seru ibu dengan senyuman terindahnya.
“lihatlah ke atas awan itu nak”. Seru ibu kembali
“Pelangi”. Jawabku lirih
“ bagaikan pelangi setelah hujan, itulah janji dari Tuhan”. Seru ibu berkaca-kaca
~
            Bersama senja ku nikmati  panorama indah yang sudah Allah ciptakan. Perseteruan ku dengan ibu, membuatku berpikir satu hal. Tanpa hujan tidak akan ada pelangi. Semenjak sosok yang aku banggakan dan sandaran hidup pergi meninggalkan kami untuk seorang wanita yang tak jelas status sosialnya. Aku terpuruk dengan kisah baru tanpa sang ayah. Ketegaran yang ibu meliki tidaklah sebanding dengan luka yang aku rasakan. Masalah yang aku hadapi bagaikan hujan yang Tuhan turunkan, namun Tuhan memberikan pelangi indah bersama ku.
Yah...Ibu adalah pelangi. Kilauan cahayanya membuatku menjadi pribadi yang tegar. Hujan dan pelangi itu adalah kolerasi. Tanpa hujan tidak akan ada pelangi.
Tuhan...biarkanlah pelangi itu tetap memberikan warna indah dalam hidupku, meskipun kami kini hanya bertiga, dalam sebuah gubug derita dan nestapa. Rumah yang tak layak di tempat ini tetap bagaikan istana di surga_Nya. Karena di sini ada pelangi terindah.
Aku semakin mengerti apa mau mu Tuhan. Tanpa hujan tak akan ada pelangi.


Kamis, 19 Maret 2015

Dekadensi Moral Mahasiswa Islam di Era Globalisasi

Oleh : Anita Juni Yanti

Dekadensi moral merupakan kondisi moral yang merosot (jatuh) atau sementara mengalami (dalam keadaan) mundur atapun kemunduran; kemunduran dan kemorosatan yang terus menerus (sengaja atapun tidak sengaja) terjadi serta sulit untuk diangkat atau diarahkan menjadi seperti keadaan semula atau sebelumnnya.
Pengertian moral ini secara tegas juga disampaikan oleh Imam Al-Ghazali, yaitu Budi Pekerti (moral/akhlak) ibarat dari perilaku yang sudah menetap dalam jiwa yang dapat melahirkan perbuatan yang mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan.
Moral dalam Islam adalah Al-Qur’an dan Hadist, serta hasil pemikiran para ulama dan filosof  sebagaimana firman Alla SWT dalam surat Al-Qalam ayat 4.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.
Salah satu permasalahan besar pada kehidupan masyarakat bahkan para intelektualitas sekalipun adalah ketika nilai-nilai ke-islaman sudah tidak bersemayam di lubuk hatinya lagi, ketika nilai akidah hanya sebuah sejarah, dan Islam hanyalah dijadikan identitas agama. Inilah permasalahan dekadensi moral.
Keadaan umat Islam pada perkembangan sekarang sedang mengalami kemerosotan, terutama di kalangan kaula muda, pelajar bahkan para intelektualnya sendiri, dimana mereka adalah harapan Islam di masa depan. Disinilah yang menjadi tugas kita bersama dalam membangkitkan kembali jiwa Islam yang hampir saja punah, karena tanpa kita sadari, para Intelektual di era globalisasi ini dihadapkan dengan berbagai godaan dan rayuan, yang membuat mereka jauh dari nilai-nilai ke-Islaman.
Gaya hidup yang hedonisme kini merasuk dalam sukma panji-panji pemuda Islam, penyimpangan demi penyimpangan kian giat dan gigih dikibarkan oleh para intelektual, bahkan hanya membedakan antara yang halal dan samar sudah menjadi sesuatu yang tabu. Melihat pemasalahan yang kian hari semakin kompleks, sudah saatnya kita membangkitkan kembali nilai-nilai ke-islaman, apalagi kampus yang sedang kita emban bersama adalah kampus islam. Sebuah kampus yang seharusnya menjadi contoh untuk kampus lain dalam menjalankan nilai-nilai ke-islaman tersebut, namun sayang, nilai-nilai ke-islaman tersebut bahkan belum menjiwai para intelektual di kampus ini.
Jika dekadensi moral telah menyebar pula dikalangan mahasiswa sebagai harapan masa depan bangsa ini. Jika mahasiswa yang merupakan jembatan penghubung antara realita dan idealita terjangkit dekadensi moral, bagaimana nasib masa depan bangsa ini? Hal inilah yang menjadi tugas utama kita semua.
            Apapun fenomena yang terjadi saat ini, pastilah ada sebab dan akibatnya, begitu pula dengan dekadensi moral yang kian hari terjadi tanpa ada solusi yang kongkret untuk memperbaikinya. Dekadensi moral yang terjadi di kalangan mahasiswa ataupun kaum pelajar lainnya adalah yang kita kenal dengan lima F diantaranya ;
1.      Food (Makanan)
Salah satu penyebab terjadinya dekadensi moral pada jiwa mahasiswa adalah Food atau makanan. Aneka ragam model makanan disajikan seringkali membuat kita lupa hukum  dari makanan yang disajikan. Apakah halal atau haram ?
2.      Fun (Hiburan)
Di Era Globalisasi ini, banyak pelajar bahkan mahasiswa yang masih mengkiblat pada dunia Barat. Para mahasiswa yang mengekor akan budaya luar mempengaruhi gaya hidup ke-Timuran. Hedonisme kini menjadi identitas sendiri pada jiwa-jiwa mahasiswa Islam.
3.      Fashion (Model)
Gaya berbusana yang seringkali digunakan para pelajar atau mahasiswa Islam sudah jauh dari nilai-nilai keislaman. Trend baju saat ini dengan memakai pakaian yang mini dan ketat, dan membuat mereka seakan bangga menjadi demikian. tentu saja hal ini yang menjadi akar munculnya dekadensi dimana-mana. terbukti angka pemerkosaan yang semakin tinggi, fenomena hamil di luar nikah seakan menjadi hal yang tidak tabu lagi, angka aborsi pada kalangan muda-mudi terus bertambah, free sex, narkoba, minuman keras.
4.      Film
Film yang sudah masuk ke dalam dunia hiburan, seringkali membuat para pelajar atau mahasiswa Islam mengikutinya. Fenomena lainnya yang sering dipertontonkan para pelajar atau bahkan mahasiswa saat ini adalah kemesraan yang tidak sewajarnya, mereka menonton film yang seharusnya tidak mereka lihat secara vulgar yang banyak ditemui hampir di setiap tempat, para pelajar yang sedang di mabuk asmara saling memperlihatkan memperlihatkan kemesraan mereka di depan publik. Dan mereka seakan tidak mengerti lagi apa itu kesopanan dan norma yang berlaku di tempat tinggal mereka. Sehingga identitas budaya sendiri menjadi hilang.
5.      Football
Dan salah satu faktor F lainnya adalah Football, fenomena dari Football itu sendiri sudah sangatlah jelas, jika kita lihat setiap kali ada event sepak bola, banyak terjadi kekacauan dari para pendukungnya.
Selain faktor F lima tersebut, terdapat pula beberapa faktor penting yang mempunyai pengaruh dalam dekadensi moral di tanah air kita pada tahun-tahun terakhir ini ialah :
a.       Kurangnya pembinaan mental
Seperti yang telah kita ketahui bahwa dalam diri setiap orang ada dorongan, keinginan dan kebutuhan yang kadang-kadang bertentangan dengan nilai moral. Orang yang gelisah itu tidak akan mampu menghadapi kebutuhan yang baik, apabila ia dari kecil tidak terlatih mengendalikan keinginan dan kebutuhan yang berlawanan dengan nilai moral tersebut.
Orang yang tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, tidak akan mengetahui nilai moral yang perlu dipatuhinya dengan suka rela dan mungkin tidak akan merasakan apa pentingnya mematuhi nilai moral yang pasti dan dipatuhi dengan ikhlas.[1]
b.      Kurangnya pengenalan terhadap nilai moral Pancasila
Apabila pancasila telah dimengerti dan didudukkan dalam fungsi pengendali tingkah laku dan kebijaksanaan setiap orang, maka pelaksanaan nilai moral dari pancasila itu dalam hidup harus dimengerti dan diketahui.[2] Sampai sekarang, para pelajar masih belum dapat mengaplikasikan nilai moral dari pancasila itu.
c.       Kegoncangan suasana dalam masyarakat
Keadaan sosial pun tidak dapat dikatakan stabil, mulai dari rumah tangga, sampai keluar, kemasyarakat ramai, kita mendengar hal yang menggelisahkan dan mencemaskan. Disana sini terjadi pengacauan, penodongan, penipuan dan lain sebagainya yang membuat orang cukup gelisah.[3] Oleh sebab itu, faktor kegoncangan dalam masyarakat juga merupakan permasalahan dekadensi moral.
d.      Kurang jelasnya hari depan di mata anak muda
Apabila anak muda yang penuh semangat ini. Tidak mendapat saluran yang wajar dan bimbingan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya, maka mereka akan mengalami kegelisahan batin yang menyebabkan kelaukan dan tindakan mereka kadang-kadang sangat ekstrim dan sukar dikendalikan.
e.       Pengaruh kebudayaan asing
Pengaruh kebudayaan asing merupakan faktor yang sangat besar dalam dekadensi moral yang terjadi di era globalisasi saat ini. Serangan dan wabah kerusakan moral yang masuk bersama kebudayaan asing yang bertentangan dengan jiwa pancila itu, mudah menyerang dan menimpa masyarakat kita yang memang sedang mengalami kegoncangan jiwa dan kehilangan ketentraman batin. Hal ini akan menjadikan masyarakat bahkan kaum terpelajar mengalami demoralisasi (kemerosotan moral).
Salah satu fenomena yang sangat mempengaruhi dekadensi moral adalah informasi dari berbagai media tanpa di filter yang baik dan yang buruknya, sehingga membuat para terpelajar tidak memilahnya terlebih dahulu. Sangatlah ironis yang melanda para pelajar adalah banyak nya pelajar yang megikuti budaya luar seperti budaya korea (k-pop). Hal yang di khawatir kan sekarang adalah mulai berkurangnya rasa nasionalsime para pelajar di karena kan masuknya budaya luar yang lebih menarik. Dekadensi moral di mulai dari hal yang kecil dari mulai cara berpakaian,berbicara,tradisi yang tidak sesuai dengan kepribadian leluhur budaya Indonesia dan bahkan dapat mengurangi keimanan dan berpindah agama hanya karena ingin mengikuti trend yang sudah di dapat dari budaya luar.
Studi Kasus
Salah satu studi kasus dari dekadensi moral....
 Di dalam suatu lingkungan yang sedang mengalami krisis psikologis dan moral, yang diakibatkan oleh adanya gelombang materialisme yang sangat besar, dimana kekayaan dan bukan moralitas yang menjadi patokan kehormatan dan penghargaan, tidak ada sistem pendidikan, meskipun telah berkembang dan tersebar, yang dapat menyuburkan dan meningkatkan moral dan spiritual dari masyarakat. Golongan terpelajar, para guru dan ahli-ahli pikir yang menempati kedudukan penting di universitas telah tersapu oleh arus materialisme yang sangat kuat, mereka bagaikan potongan-potongan daging cacah di dalam garam yang dengan segera larut dan menyatu dengannya. Oleh karena itu tidak sepatutnyalah kalau kita menutup mata dari gelombang pasang materialisme yang begitu kuat menerjang segala sesuatu yang menghalanginya. Dalam keadaan beginilah perlulah kita melakukan pemikiran yang lebih sungguh-sungguh tentang penyakit-penyakit yang menjadikan bangsa Muslim lemah dan lumpuh.[4] Hal inilah yang menjadi tugas kita bersama.



[1] Zakiah Daradjat, Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia. (Bulan Bintang : Jakarta, 1976) hal.49
[2] Ibid. Hal.52
[3] Ibid
[4] Perkataan Imam Maulana Abul Hasan Ali Nadwi dari Education in Saudi Arabia dalam karyanya tentang Islam dan peranannya di dunia modern